PENCEGAHAN
PENYEKIT KULIT
SISTEM
INTEGUMEN
NAMA KELOMPOK S1 3B :
1 AJENG ROSA P.D 1310004
2. DHEA ABRIYANTI 1310024
3.
MUFHIDA PARANINGTYAS 131.0060
4.
SARAH SAFIRA 131.0088
5.
YUANITA PUTRI 131.0104
6.
RETNO FIDYAWATI 131.0118
7.
ANNISA APRILIA 131.0120
STIKES
HANGTUAH SURABAYA
TAHUN
AJARAN 2015/2016
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Setiap kulit sehat
memiliki resiko menggalami kerusakan yang disebebkan oleh faktor mekanis, bahan
kimia, vaskular, infeksi, alergi, inflamasi, penyakit sistemik dan luka bakar.
Semua penyebab tersebut menimbulkan efek yang berbeda pada kulit, misalnya
bengkak, kemerahan, makula, papula, pustula, bulla, hingga ulkus atau disebut
luka.
KERUSAKAN KULIT
Kelrusakan kulit atau
dikenal juga dengan istilah lesi kulit
dapat dosebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :
1. Reaksi
imun
`Reaksi dikenaljuga
sebagai alergi terkait sistem imun tubuh. Reaksi yang sering muncul dapat
diklasifikasikan menjadi 4 tipe. Tipe 1 yaitu reaksi seegra atau reaksi fase
aktif substansi sel mast atau basofil yang diikuti dengan reaksi spesifik
antigen/antibodi. Tipe 2 yaitu sitotoksik berupa reaksi merusak sel,
fagositosis, dan mekanisme gula. Tipe 3 yaitu reaksi imun kompleks berupa
sirkulasi antigen/antibodi ke jaringan inflamasi, trombosit rusak, vasoaktif
menurun, dan permeabilitas vaskuler meningkat. Tipe 4 yaitu hipersensitif.
2. Infeksi
Infeksi pada kulit
(reaksi imunitas). Secara fisika, kulit memiliki resiko tinggi infeksi pada
stratum corneum. Stratum corneum yang kering/overhidrasi/traumatik dapat
menyebabkan invasi mikroorganisme ke dalam tubuh. Secara mikrobial, terutama
flora normal kulit, akan menjadi patogen saat imunitass menurun sehingga reaksi
imunologis dari sel langerhans dan limfosit sangat berperan. Bakteri yang umum
menyebabkan infeksi pada kulit adalah stafilokokus (prduksi pus) dan
streptococus (produksi enzim proteolitik penyebab inflamasi). Pada family
virus, terdapat 3 virus yang sangat berperan, yaitu papovavyrus (hyperplasia
epidermal), poxvyrus (hiperplasia epidermal), dan herpes/herpes ximplexvyrus(HSV)(merusak epidermal
hos,vesikel). Jamur juga dapat menjadi penyebab infeksi pada kulit dan infeksi
jamur yang paling umum adalah kandidiasis. Lesi kulit lainnya dapat disebabkan
oleh mikrobakterium. Secara kronis pertumbuhan intraseluler dan resisten
terhadap antibodi merusak kulit dan granuloma.
3. Keganasan
Faktor keganasan sek
(karsinoma) menjadi penyebab terjadinya kaknker kulit, misalnya terpapar
radiasi ultraviolet yang berlebihan (sinar 290-320 nanometer merusak sel),
sinar X, bahan kimia, virus (HPV), dan kejadian luka yang menahun (kronis) dan
tiadk kunjung sembuh dapat menjadi keganasan pada kulit. Melanoma juga
merupakan penyebab lesi kulit yang cukup tinggi di Indonesia.
4. Gangguan
pembuluh darah (vaskular)
Lesi kulit dapat
terjadi karena gangguan pembuluh darah arteri dan vena. Ulkus terlebih di area
kaki atau telapak kaki dapat terjadi karena hipertensi vena, gangguan arteri,
neuropati, atau kombinasi gangguan tersebut. Cara mendiagnosis setiap penyebab
lesi yang terjadi berbeda. Makanan yang dihantarkan oleh pembuluh darah ke sel
sangat memengaruhi kualita kulit. Beberapa lesi terjadi karena asupan nutrisi
yang tidak adekuat.
5. Kerusakan
mekanis
Kerusakan mekanis
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu shear (lipatan), pressure(tekanan),
friction (gesekan), bahan kimia, iskemia (kekurangan oksigen), dan neuropati
(mati rasa). Kerusakan mekanis pada kulit menyebabkan terjadinya luka .
6. Faktor
psikologis
secara psikologis, lesi
dapat terjadi secara primer saat individu emosi dan secara sekunder timbul
penyakit kulit seperti dermatitis. Beberapa kasus yang ditemukan, disebabkan
oleh keudanya. Manifestasi yang timbul adalah gatal, panas dan berkeringat.
LESI
KULIT
Lesi
kulit yang terjadi dapat berupa skintear atau robekan epidermis dan
berbagai bentuk lesi lainnya seperti
ulkus diabetikum dan dekubitus.
1. Skin
tear
Ada satu istilah yang
saat ini berkembang, terutama lesi kulit yang menyebabkan hilangnya atau
lepasnya epidermis dengan atau tanpa hilangnya dermis secara mekanis, yaitu
skin tear. Skin tear atau robekan epidermis sering terjadi secara disadari atau
tidak, misalnya pada saat petugass kesehatan melepas plester setelah penggunaan
yang cukup lama atau saat kulit terbentur dan bergesekan dengan benda tumpul
dan kulit terkelupas. Skin tear memiliki 3 kategori dalam penentuan
kerusakannya. Paine dan martin mendefinisikan dan mengklasifikasikan skin tear
pada tahun 2003 dalam jurnal ostomi wound manajemen.
2. Terminologi
lesi
Lesi kulit memiliki
terminologi dengan 2 klasifikasi utama, yaitu lesi kulit primer (menjadi
penyebab utama terjadinya lesi) danlesi kulit sekunder (lesi yang muncul akibat
kondisi tertentu atau setelahnya). Lesi primer diantaranya adalah makula ,
papula, patch, plaque, wheal, nodul, tumor, vesikel, bulla, pustula, cyst, dan
telange ektasia. Lesi sekunder berupa scale, likenifikasi keloid , scar,
excoriasi, fisura, erosi, ulkus, kusta , dan artrofi.
3. Karakteristik
morfologi lesi kulit
Lesi kulit memiliki
karakteristik morfologi dan perkembangannya. Morfologi lesi dapat dilihat
berdasarkan ditribusi (penyebarannya), ukuran atau pengaturannya, batasnya,
perubahannya yang mengikuti, dan pigmentasinya.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan varicella ?
2. Apa etiologi dari varicella?
3. Bagaiana
manifestasi klinis varicella?
4. Bagaimana
patofisiologi dan pathway varisella?
5. Bagaimana
pencegahan varicella ?
6. Bagaimana
penanganan varicella ?
7. Apa
yang dimaksud dengan dermatitis ?
8. Apa etiologi dari dermatitis ?
9. Bagaiana
manifestasi dermatitis?
10. Bagaimana
patofisiologi dermatitis ?
11. Bagaimana
penatalaksanan dermatitis ?
12. Bagaimana
pencegahan dermatitis ?
13. Apa
yang dimaksud dengan pemvigus vulgaris ?
14. Apa etiologi dari pemphigus vulgaris?
15. Bagaimana
patofisiologi pemphigus vulgaris?
16. Bagaimana
manifestasi klinis pemfifus vulgaris ?
17. Bagaimana
penatalaksanaan pemvigus vulgaris ?
18. Apa
yang dimaksud dengan scabies ?
19. Apa etiologi dari scabies?
20. Bagaiana
manifestasi klinis scabies?
21. Bagaimana
patofisiologi scabies?
22. Bagaimana
pencegahan scabies ?
23. Apa
yang dimaksud dengan tinea ?
24. Apa etiologi dari tinea?
25. Bagaiana
manifestasi klinis tinea?
26. Bagaimana
patofisiologi tinea?
27. Bagaimana
penatalaksanaan tinea ?
28. Apa
yang dimaksud dengan kanker kulit ?
29. Apa yang dimaksud dengan steven johnson ?
30. Apa etiologi dari steven johnson?
31. Bagaiana
manifestasi klinis steven johnson ?\
32. Bagaimana
patofisiologi steven Johnson ?
33. Bagaimana
pencegahan steven johnson ?
1.3 Tujuan
1. Dapat
mengetahui definisi varicella
2. Dapat
mengetahui Apa etiologi dari varicella
3. Dapat
mengetahui Bagaiana manifestasi klinis varicella
4. Dapat
mengetahui bagaimana patofisiologi dan
pathway varisella
5. Dapat
mengetahui Bagaimana pencegahan varicella
6. Dapat
mengetahui penanganan varicella
7. Dapat
mengetahui definisi dermatitis
8. Dapat
mengetahui etiologi dari dermatitis
9. Dapat
mengetahui bagaiana manifestasi dermatitis
10. Dapat
mengetahui bagaimana patofisiologi dermatitis
11. Dapat
mengetahui bagaimana penatalaksanan dermatitis
12. Dapat
mengetahui bagaimana pencegahan dermatitis
13. Dapat
mengetahui apa yang dimaksud dengan pemvigus vulgaris
14. Dapat
mengetahui apa etiologi dari pemphigus vulgaris
15. Dapat
mengetahui bagaimana patofisiologi pemphigus vulgaris
16. Dapat
mengetahui bagaimana manifestasi klinis pemfifus vulgaris
17. Dapat
mengetahui bagaimana penatalaksanaan pemvigus vulgaris
18. Dapat
mengetahui apa yang dimaksud dengan scabies
19. Dapat
mengetahui apa etiologi dari scabies?
20. Dapat
mengetahui bagaiana manifestasi klinis
scabies
21. Dapat
mengetahui bagaimana patofisiologi
scabies
22. Dapat
mengetahui bagaimana pencegahan scabies
23. Dapat
mengetahui apa yang dimaksud dengan tinea
24. Dapat
mengetahui apa etiologi dari tinea
25. Dapat
mengetahui bagaiana manifestasi klinis tinea
26. Dapat
mengetahui bagaimana patofisiologi tinea
27. Dapat
mengetahui bagaimana penatalaksanaan tinea
28. Dapat
mengetahui apa yang dimaksud dengan kanker kulit
29. Dapat
mengetahui apa yang dimaksud dengan steven johnson
30. Dapat
mengetahui apa etiologi dari steven johnson
31. Dapat
mengetahuibBagaiana manifestasi klinis steven johnson
32. Dapat
mengetahuibBagaimana patofisiologi steven Johnson
33. Dapat
mengetahuibBagaimana pencegahan steven johnson
1.4 Manfaat
1. Untuk
mengetahui definisi varicella
2. Untuk
mengetahui Apa etiologi dari varicella
3. Untuk
mengetahui Bagaiana manifestasi klinis varicella
4. Untuk
mengetahui bagaimana patofisiologi dan pathway varisella
5. Untuk
mengetahui Bagaimana pencegahan varicella
6. Untuk
mengetahui penanganan varicella
7. Untuk
mengetahui definisi dermatitis
8. Untuk
mengetahui etiologi dari dermatitis
9. Untuk
mengetahui bagaiana manifestasi dermatitis
10. Untuk
mengetahui bagaimana patofisiologi dermatitis
11. Untuk
t mengetahui bagaimana penatalaksanan dermatitis
12. Untuk
mengetahui bagaimana pencegahan dermatitis
13. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan pemvigus vulgaris
14. Untuk
mengetahui apa etiologi dari pemphigus vulgaris
15. Untuk
engetahui bagaimana patofisiologi pemphigus vulgaris
16. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis
pemfifus vulgaris
17. Untuk
mengetahui bagaimana penatalaksanaan pemvigus vulgaris
18. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan scabies
19. Untuk mengetahui apa etiologi dari scabies?
20. Untuk mengetahui bagaiana manifestasi klinis scabies
21. Untuk
mengetahui bagaimana patofisiologi
scabies
22. Untuk
mengetahui bagaimana pencegahan scabies
23. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan tinea
24. Untuk
mengetahui apa etiologi dari tinea
25. Untuk mengetahui bagaiana manifestasi klinis tinea
26. Untuk
mengetahui bagaimana patofisiologi tinea
27. Untuk
mengetahui bagaimana penatalaksanaan tinea
28. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kanker
kulit
29. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan steven johnson
30. Untuk
mengetahui apa etiologi dari steven johnson
31. Untuk
mengetahui bagaiana manifestasi klinis steven johnson
32. Untuk
mengetahui bagaimana patofisiologi steven Johnson
33. Untuk
mengetahui bagaimana pencegahan steven johnson
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1
VARISELA
2.1.1
Konsep
Dasar Varisela
Varisela atau Cacar
Air merupakan suatu infeksi yang
disebabkan oleh virus varisella zoester yang menyerang kulit dan mukosa dengan
kelainan berbentuk vesikula yang tersebar infeksi ini terutama menyerang
anak-anak dan bersifat mudah menular. (Muttaqin dan kumala sari, 2011 : 40).
Cacar adalah infeksi
virus yang terdapat di seluruh dunia, dengan kecenderungan untuk menyebar
sebagai epidemi, tetapi terutama dijumpai di daerah tropis dan subtropis.Pada
saat ini penyakit cacar sudah dapat diberantas dan dunia dinyatakan bebas dari
cacar. (soedarto.1996 : 20).
Varisella (cacar air,
chicken pox) merupakan infeksi akut primer oleh varisela-zoster yang menyerang
kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit polimorf,
terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. (Djuanda, adhi, 2007 : 115).
Virus
yang menyebabkan varisela adalah virus DNA. Saat penyakit ini aktif, akan
sangat menular. Masa inkubasinya 14 – 21 hari. Infeksi biasanya timbul pada
anak-anak usia sekolah, tetapi kadang-kadang juga menyerang orang dewasa muda.
Varisela ditandai oleh malaise dan demam, yang diikuti oleh erupsi multiple
makula eritematosa kecil, papula dan vesikel.(Price, Sylvia Andreson, 2005 :
1447).
Vesikel-vesikel akan
menjadi purulen, berkrusta dan sembuh spontan biasanya dalam waktu satu minggu.
Lesi terdapat dalam berbagai stadium, dan ini merupakan ciri khas varisela.Lesi
mula-mula timbul di tubuh dan wajah dan kemudian menyebar ke perifer menuju
ekstremitas.Orang dewasa dapat menderita pneumonitis atau ensefalitis
varisela.Pada anak-anak yang mengalami imunosupresi maka dapat timbul
komplikasi akibat infeksi varisela yaitu pneumonitis atau ensefalitis, dan
keduanya mungkin fatal. Asiklovir 800 mg lima kali sehari selama 7 hari dapat
membantu meringankan penyakit dan memperpendek masa infeksi..(Price, Sylvia
Andreson, 2005 : 1447
2.1.2
Etiologi
Varicella disebabkan
oleh Varicella Zoster Virus (VZV), termasuk kelompok
Herpes Virus dengan diameter kira-kira 150-200 nm. Inti virus disebut Capsid,
terdiri dari protein dan DNA dengan rantai ganda, yaitu rantai pendek (S) dan
rantai panjang (L) dan membentuk suatu garis dengan berat molekl 100 juta yang
disusun dari 162 capsomir dan sangat infeksius. (Rampengan, 2007:91)
Varicella Zoster Virus
(VZV) dapat ditemukan dalan cairan vesikel dan dalam
darah penderita Varicella sehingga mudah dibiakkan dalam media yang terdiri
dari Fibroblast paru embrio manusia.Varicella Zoster Virus (VZV) dapat
menyebabkan Varicella dan HerpesZoster. Kontak pertama dengan penyakit ini akan
menyebabkan Varicella,sedangkan bila terjadi serangan kembali, yang akan muncul
adalah Herpes Zoster, sehingga Varicella sering disebut sebagai infeksi primer
virus ini. (Rampengan, 2007:91)
Virus
varisela-zoster.Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer
virus ini menyebabkan penyakit varisela, sedangkan reaktivasi menyebabkan
herpes zoster. (Djuanda, adhi, 2007 : 115).
Virus cacar termasuk
kelompok kecil, terdapat dalam 2 bentuk yaitu bentuk yang ganas (variola major)
dan bentuk yang kurang ganas (variola minor).Terdapat juga jenis yang ketiga,
yaitu vaccina yang tidak patogen untuk manusia dan digunakan untuk menginfeksi
sapi dalam usaha mendapatkan vaksin terhadap cacar.(Soedarto.1996 : 20).
2.1.3
Manifestasi
Klinis
Masa inkubasi Varicella
bervariasi antara 10-21 hari, rata-rata 10-14 hari.Penyebaran varicella
terutama secara langsung melalui udara dengan perantaraan percikan liur. Pada umumnya tertular dalam keluarga
atau sekolah. (Rampengan,2008: 94)
Perjalanan penyakit ini
dibagi menjadi 2 stadium, yaitu:
1. Stadium
Prodromal:
Gejala panas
yang tidak terlalu tinggi, perasaan lemah (malaise), sakit kepala, anoreksia,
rasa berat pada punggung dan kadang-kadang disertai batuk kering diikuti eritema pada kulit dapat
berbentuk secara latinaform atau morbiliform. Panas
biasanya menghilang dalam 4 hari, bilamana panas tubuh menetap perlu dicurigai
adanya komplikasi atau gangguan imunitas. (Rampengan,2008: 94)
Periode prodromal: biasanya tidak ada
pada anak-anak, namun orang dewasa dapat mengalami demam dan malaise selama 1-2
hari.
2. Stadium
Erupsi:
Dimulai
saat eritema berkembang dengan cepat (dalambeberapa jam) berubah menjadi macula
kecil, kemudian papula yang kemerahan lalu
menjadi vesikel. Vesikel ini biasannya kecil, berisi cairan jernih, tidak
umbilicated dengan dasar eritematous, mudah pecah serta mongering membentuk
krusta, bentuk ini sangat khas dan lebih dikenal sebagai “tetesan embun”/”air
mata”. (Rampengan,2008: 94).
Lesi
kulit mulai nampak di daerah badan dan kemudian menyebar secara sentrifugal ke
bagian perifer seperti muka dan ekstremitas. Dalam perjalanan penyakit ini akan didapatkan tanda yang
khas yaitu terlihat adanya bentuk papula, vesikel,
krusta dalam waktu yang bersamaan, dimana keadaan ini disebut polimorf. Jumlah
lesi pada kulit dapat 250-500, namun kadang-kadang dapat hanya 10 bahkan lebih
sampai 1500. Lesi baru tetap
timbul selama 3-5 hari, lesi sering menjadi bentuk krusta pada hari ke-6 (hari
ke-2 sampai ke-12) dan sembuh lengkap pada hari ke-16 (hari ke-7 sampai ke-34). (Rampengan,2008: 95).
Erupsi
kelamaan atau terlambatnya berubah menjadi krusta dan penyembuhan, biasanya dijumpai pada penderita
dengan gangguan imunitas seluler. Bila terjadi infeksi sekunder, sekitar lesi
akan tampak kemerahan dan bengkak serta cairan vesikel yang jernih berubah
menjadi pus disertai limfadenopati umum. Vesikel tidak hanya terdapat pada
kulit, melainkan juga terdapat pada mukosa mulut, mata, dan faring. (Rampengan,2008: 95).
Pada
penderita varicella yang disertai dengan difisiensi imunitas (imun defisiensi)
sering menimbulkan gambaran klinik yang khas berupa perdarahan, bersifat
progresif dan menyebar menjadi infeksi sistemik. Demikian
pula pada penderita yang sedang mendapat imunosupresif. Hal ini disebabkan oleh terjadinya
limfopenia. (Rampengan,2008:
95).
Pada
ibu hamil yang menderita varicella dapat menimbulkan beberapa masalah pada bayi yang akan dilahirkan
dan bergantung pada masa kehamilan ibu,
antara lain:
1.
Varisela neonatal
Varisela neonatal dapat merupakan
penyakit serius, hal ini bergantung pada saat ibu kena varisela dan
persalinan.Bila ibu hamil terinfeksi varisela 5 hari sebelum partus atau 2 hari setelah partus, berarti bayi tersebut
terinfeksi saat viremia kedua dari ibu,
bayi terinfeksi transplasental, tetapi tidak memperoleh kekebalan dari ibu karena belum cukupnya waktu ibu
untuk memproduksi antibody.
Pada keadaan ini, bayi yang dilahirkan akan mengalami varisela berat dan menyebar. Perlu
diberikan profilaksis atau pengobatan
dengan varicella-zoster immune globulin (VZIG) dan asiklovir. Bila
tidak diobati dengan adekuat, angka kematian sebesar30%.Penyebab kematian utama
akibat pneumonia berat dan hepatitis fulminan. (Rampengan,2008: 95).
Bila
ibu terinfeksi varisela lebih dari 5 hari antepartum, sehingga ibu mempunyai
waktu yang cukup untuk memproduksi antibody dan dapat diteruskan kepada bayi.
Bayi cukup bulan akan menderita varisela ringan karena pelemahan oleh antibody
transplasental dari ibu. Pengobatan dengan VZIG tidak perlu, tetapi asiklovir
dapat dipertimbangkan pemakaiannya, bergantung pada keadaan bayi.
(Rampengan,2008: 95).
2.
Sindrom varisela congenital
Varisela congenital dijumpai pada
bayi dengan ibu yang menderita varisela pada umur kehamilan trimester I atau II
dengan insidens 2%. Manisfestasi
klinik dapat berupa retardasi pertumbuhan intrauterine, mikrosefali, atrofi
kortikalis, hipoplasia ekstremitas, mikroftalmin, katarak, korioretinitis dan
scarring pada kulit. Beratnya
gejala pada bayi tidak berhubungan dengan beratnya penyakit pada ibu. Ibu hamil dengan zoster tidak
berhubungan dengan kelainan pada bayi. (Rampengan,2008:
96).
3.
Zoster infantile
Penyakit ini sering muncul dalam
umur bayi satu tahun pertama, hal ini disebabkan
karena infeksi varisela maternal setelah nasa gestasi ke-20. Penyakit ini sering menyerang pada saraf
dermatom thoracis. (Rampengan,2008:
96).
2.1.4
Patofisiologi
Setelah terjadi kontak
dengan orang lain yang menderita varisela, maka akan terjadi respon imun dengan
peningkatan suhu tubuh. Setelah stadium prodromal timbul banyak makula/ papula
cepat berubah menjadi vesicular. Selama beberapa hari akan timbul vesikula baru
sehingga umur dari lesi tidak sama. Kulit sekitar lesi berwarna eritematus. (Muttaqin dan kumala sari, 2011 : 40)
Adanya respon inflamasi
lokal memberikan adanya keluhan nyeri, kerusakan integritas jaringan dan
gatal-gatal. Respon psikologi
pada kondisi ini adalah kecemasan dan gangguan konsep diri. (Muttaqin dan kumala sari, 2011 : 40).
2.1.5
Pencegahan
Pencegahan terhadap
infeksi varisela zoster virus dilakukan dengan cara imunisasi pasif atau aktif.
1.
Imunisasi aktif
Dilakukan dengan
memberikan vaksin varisela yang dilemahkan (live,attenuated) yang berasal dari
OKA Strain dengan efek imunogenisitas tinggi dan tingkat
proteksi cukup tinggi berkisar 71-100% serta mungkin lebih lama. Dapat diberikan pada anak sehat ataupun
penderita leukemia, imunodefisiensi. Untuk penderita
pasca kontak dapat diberikan vaksin ini dalam
waktu 72 jam dengan maksud
sebagai preventif atau mengurangi gejala penyakit. Dosis yang dianjurkan ialah 0,5 mL
subkutan. Pemberian vaksin ini ternyata
cukup aman. Dapat diberikan bersamaan dengan MMR dengan daya proteksi yang sama dan efek samping
hanya berupa rash yang ringan. Efek
samping biasanya tidak ada, tetapi bila ada biasanya bersifat ringan.
(Rampengan,2008: 102).
2.
Imunisasi pasif
Dilakukan dengan
memberikan Zoster Imun Globulin (ZIG) dan Zoster Imun
Plasma (ZIP). Zoster Imun
Globulin (ZIG) adalah suatu globulin-gama dengan titer antibody yang tinggi dan yang didapatkan
dari penderita yang telah sembuh dari infeksi
herpes zoster. Dosis Zoster Imuno Globulin (ZIG): 0,6 mL/kg BB intramuscular diberikan sebanyak 5mL
dalam 72 jam setelah kontak.
a. Indikasi pemberian Zoster Imunoglobulin ialah:
b. Neonatus
yang lahir dari ibu menderita varisela 5 hari sebelum partus atau2 hari setelah melahirkan.
c. Penderita
leukemia atau limfoma terinfeksi varisela yang sebelumnya belum divaksinasi.
d. Penderita
HIV atau gangguan imunitas lainnya.
e. Penderita
sedang mendapat pengobatan imuno supresan
seperti kortiko steroid.
(Rampengan,2008: 101).
2.1.6
Penatalaksanaan
1. Farmakologi:
a. Obat
topical
Pengobatan local dapat diberikan Kalamin
lotion atau bedak salisil1%.
b. Antipiretik/analgetik
Biasanya dipakai aspirin, asetaminofen,
ibuprofen.
c. Antihistamin
Golongan antihistamin
yang dapat digunakan, yaituDiphenhydramine, tersedia dalam bentuk cair
(12,5mg/5mL), kapsul(25mg/50mg) dan injeksi (10 dan 50 mg/mL). Dosis 5mg/kg/hari, dibagi dalam 3 kali
pemberian. (Rampengan,2008: 100).
d. Obat
anti virus
1)
Vidarabin (adenosine arabinoside)
Adalah obat antivirus yang diperoleh dari
fosforilase dalam sel dan dalam bentuk trifosfat, menghambat polymerase DNA
virus. Dosis: 10-20 mg/kg BB/hari, diberikan sehari dalam infuse selama 12 jam,
lama pemberian 5-7 hari. Pada pemberian vidarabin, vesikel menghilang secara
cepat dalam 5 hari.
Efek
samping:
a)
Gangguan neurologi berupa tremor, kejang
b)
Gangguan hematologi berupa netropenia,
trombositopia
c)
Gangguan gastrointestinal berupa muntah
serta peninggian SGPTdan SGOT.(Rampengan,2008: 100).
2)
Asiklovir = 9 (2 Hidroksi etoksi metal)
Guanine
Asiklovir
merupakan salah satu antivirus yang banyak digunakan akhir-akhir ini. Asiklovir lebih baik dibandingkan dengan
vidarabin. Obat ini bekerja
dengan menghambat polymerase DNA virus Herpes dan mengakhiri replikasi virus.
Obat ini dapat mengurangi bertambahnya lesi pada kulit dan lamanya panas, bila
diberikan dalam 24 jam mulai timbulnya rash. (Rampengan,2008:
100).
Pada
anak kecil yang tanpa komplikasi, penggunaan obat inikurang bermanfaat dan
tidak direkomendasikan secara rutin sehingga Asiklovir lebih banyak digunakan
pada penderita dengan komplikasi ataupenderita dengan gangguan imunitas. Obat ini tidak mengurangi rasa gatal
pada kulit, komplikasi atau penularan sekunder. Dosis:
5-10 mg/kg BB dibagi dalam 4-5 dosis/hari, dapat diberikan secara oral atau
iv/drip tiap 8 jam selama 5-7 hari. Dengan dosis jangan melebihi 3200 mg/hari. Tersedia dalam bentuk kapsul (200 mg/400
mg/800 mg), cairan (400 mg/5 mL), injeksi (500 mg/5 mL).Efek samping:Gangguan
ginjal berupa renal insufisiensi, malaise dan gangguanpencernaan. (Rampengan,2008: 101).
2.
Diet yang adekuat
a.
Berikan makanan penuh dan jangan
dibatasi
b.
Kadang-kadang penderita mengalami
anoreksia, sebaiknya dimotivasi
banyak minum untuk mempertahankan status hidrasi. Cairan
yang cukup sangat diperlukan bila penderita diberikan Asiklovor, karena obat ini dapat berkristalisasi
dalam tubulus renalisbila penderita dalam keadaan dehidrasi. (Rampengan,2008: 101).
2.2
DERMATITIS
2.2.1
Konsep
Dasar Dermatitis Kontak Iritan
Pengertian
Dermatitis Kontak Iritan
Dermatitis
kontak iritan merupakan reaksi inflamasi kulit terhadap unsur-unsur fisik,
kimia, bioligi. Dermatitis kontak iritan dapat berupa tipe iritan-primer dimana
reaksi non alergik terjadi akibat pejanan terhadap substansi iritatif.
(Muttaqin, 2011).
Dermatitis
kontak iritan merupakan penyakit pada kulit yang berlangsung lama, yang tidak
di tularkan dari orang ke orang lain. Dermatitis menunjukkan adanya inflamasi
atau peradangan pada kulit. Dermatitis kontak irirtan merupakan bentuk yang
paling sering dijumpai dapat diderita baik perempuan maupun laki-laki. Selain
faktor lingkungan, dermatitis kontak iritan juga ada kaitannya dengan gangguan
fungsi sistem imun tubuh. (Soedarto, 2012).
Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dermatitis kontak iritan merupakan
penyakit alergik yang ditunjukan dengan reaksi inflamasi pada kulit yang disebabkan
oleh unsur-unsur fisik, kimia, dan biologi. Penyakit ini tidak menular tetapi
dapat diderita oleh perempuan maupun laki-laki.
2.2.2
Etiologi
Ada
beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan dermatitis kontak iritan, sebagai
berikut:
1. Wol
atau serat buatan
2. Sabun
dan bahan pembersih
3. Parfum
dan bahan kosmetik
4. Klorin,
munyak mineral, atau cairan pelarut
5. Debu
atau pasir
6. Asap
rokok
Stress,
amarah dan frustasi bukanlah penyebab terjadinya dermatitis kontak iritan,
tetapi dapat memperberat gejala klinisnya. Adanya infeksi kulit oleh bakteri,
perubahan temperatur, dan iklim, dapat memicu terjadinya kelainan kulit
tersebut. (Soedarto, 2012).
2.2.3
Manifestasi Klinis
Adapun
beberapa tanda dan gejala dermatitis kontak iritan, yaitu:
1.
Kulit
yang terasa kering dan gatal
2.
Ruam
pada wajah penderita
3.
Di
belakang lutut
4.
Di
bagian dalam siku
5. Pada
tangan dan kaki
6. Garukan
dan gosokan pada daerah yang gatal dapat menyebabkan kulit berwarna merah dan
bercak-bercak, menebal, atau membentuk kerak (crusty) dan menunjukkan gambaran
adanya infeksi sekunder.
(Soedarto,
2012)
2.2.4
Patofisiologi
Adanya
riwayat kontak dengan penyebab dermatitis kontak iritan seperti sabun,
detergen, bahan pembersih, dan zat kimia industri, serta adanya faktor
predisposisinya mencakup keadaan terlalu panas atau terlalu dingin atau oleh
kontak yang terus-menerus dengan sabun serta air, dan penyakit kulit yang sudah
ada sebelumnya memberikan manifestasi inflamasi pada kulit. Respon inflamasi
pada kulit pada dermatitis kontak diperantarai melalui hipersensitivitas lambat
jenis seluler tipe IV. (Muttaqin, 2011
2.2.5
Penatalaksanaan
Tujuan
pengobatan dermatitis kontak iritan adakah mengurangi rasa gatal, memperbaiki
kulit yang rusak, dan menghambat reaksi inflamasi.
1.
Mandi dan memberi pelembab kulit. Mandi
dianjurkan satu kali sehari menggunakan air hangat dan tidak memakai sabun
kecuali untuk menghilangkan kotoran. Gunakan pembersih ringan sebagai pengganti
sabun. Sesudah mandi berikan pelembab kulit dalam bentuk krim, mineral oil,
baby oil.
2. Antihistamin
diberikan untuk mengurangi rasa gatal.
3. Kortikosteroid
bentuk sistemik maupun bentuk topikal diberikan untuk meredakan inflamasi.
4. Antibiotika
diberikan untuk mengobati infeksi sekunder.
(Soedarto,2012).
2.2.6
Pencegahan
Cara terbaik untuk mencegah berkembangnya dermatitis
kontak adalah untuk menghindari kontak dengan iritan dan alergen yang
diketahui. Melacak zat yang menimbulkan reaksi, dan pastikan untuk
menghindarinya. Jika anda terkena zat yang anda yakini sebagai yang menyebabkan
peradangan, mencuci atau bilas bagian yang terkena sesegera mungkin. Pakailah
sarung tangan pelindung saat membersihkan atau di tenoat kerja, dan menggunakan
sabun ringan atau diberi wewangian dan deterjen pada pakaian dan linen.
Menggunakan pelembab atau krim penghalang juga dianjurkan.
2.3
PEMFIGUS VULGARIS
2.3.1
Konsep
dasar penyakit pemfigus vulgaris
Pengertian
Pemfigus berasal dari
kata Yunani pemphix yang berarti gelembung atau melepuh. Pemfigus menggambarkan
sekelompok penyakit bulosa kronis yang awalnya dideskripsikan oleh Wichman
tahun 1791. Pemfigus vulgaris merupakan penyakit serius pada kulit yang
ditandai oleh timbulnya bula (lepuh) dengan berbagai ukuran pada kulit yang
tampak normal dan membrane mukosa (misalnya, mulut, vagina).
2.3.2
Etiologi
Pemfigus vulgaris
merupakan penyakit autoimun, karena pada serum penderita ditemukan
autoantibodi, juga dapat sebabkan obat misalnya D-penisilamin dan Kaptopril.
Pemfigus yang diinduksi oleh obat dapat berbentuk pemfigus foliaseus atau
pemfigus vulgaris. Pemfigus foliaseus lebih sering timbul dibandingkan dengan
pemfigus vulgaris. Pada pemfigus tersebut secara klinis dan histologik
menyerupai pemfigus yang sporadik, pemeriksaan imunofluoresensi langsung pada
kebanyakan kasus positif, sedangkan pemeriksaan imunofluoresensi tidak langsung
hanya kira-kira 70% yang positif.
Pemfigus dapat
menyertai penyakit neoplasma baik yang jinak maupun yang maligna, dan disebut
sebagai pemfigus paraneoplastik. Pemfigus juga dapat ditemukan bersama-sama
dengan penyakit autoimun yang lain, misalnya lupus eritematosus sistemik,
pemfigus bulosa, miastenia gravis, dan anemia pernisiosa.
2.3.3
Patofisiologi
Pemfigus vulgaris
adalah suatu penyakit imun yang jarang terjadi yang meliputi terbentuknya lepuh
mukokutaneus. Antibodi immunoglobulin G (IgG) ditargetkan melawan desmoglem-3,
suatu protein adhesi utama ini pada epidermis. Hasilnya adalah akantolisis
(separasi antara keratinosit), terbentuknya lepuh suprabasilar, dan infiltrat
inflamatoris dermal superfisial ringan. Mekanisme yang pasti masih
kontroversial.
Pemfigus vulgaris
adalah bentuk pemfigus yang paling umum. Jenis utama innya meliputi pemfigus
foliaseus dan pemfigus paraneoplastik. Frekuensi meningkat pada orang keturunan
Mediterania atau Yahudi. Usia rata-rata saat onset adalah 50-60 tahun. Jumlah
yang terkena pemfigus vulgaris sebanding antara laki-laki dan perempuan.
Bukti yang ada
menunjukkan bahwa pemfigus merupakan penyakit autoimun yang melibatkan IgG
suatu immunoglobulin. Diperkirakan bahwa antibody pemfigus ditujukan langsung
kepada antigen permukaan sel yang spesifik dalam sel-sel epidermis. Bulla
terbentuk akibat reaksi ringan antigen antiboi. Kadar antibody dalam serum
merupakan petunjuk untuk memprediksikan intensitas penyakit. Faktor-faktor
genetic dapat memainkan peranan dalam perkembangan penyakit. Kelainan ini
biasanya terjadi pada laki-laki dan wanita dalam usia pertengahan, serta akhir
usia dewasa. Komplikasi yang paling sering pada pemfigus vulgaris terjai ketika
proses penyakit tersebut menyebar luas. Sebelum ditemukannya kortikosteroid dan
terapi immunosupresif, pasien sangat rentan terhadap infeksi bateri sekunder.
Bakteri kulit relative mudah mencapai bula karena bula mengalami perembean
cairan, pecah, dan meninggalkan daerah-daerah
terkelupas yang terbuka terhadap lingkungan.
Gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit terjadi akibat-akibat
ehilangan cairan, serta protein ketika bula mengalami rupture. Hipoalbuminemia
lazim dijumpai kalau proses penyakitnya mencakup daerah permukaan kulit tubuh
dan membrane mukosa
yang luas.
2.3.4
Manifestasi Klinis
Sebagian
besar pasien pada mulanya ditemukan dengan lesi oral yang tampak sebagai erosi
yang bentuk irreguler
terasa nyeri, mudah berdarah dan sembuhnya lambat. Bula pada kulit akan
membesar, pecah dan meninggalkan daerah-daerah erosi yang lebar serta nyeri
yang disertai dengan pembentukan kusta dan rembesan cairan. Bau yang menusuk
dan khas memancar dari bula dan serum yang merembes keluar. Kalau dilakukan
penekanan yang minimal akan terjadi pembetukan lepuh atau pengelupasan kulit
yang normal (tanda nikolsky) kulit yang erosi sembuh dengan lambat sehingga
akhirnya daerah tubuh yang terkena sangat luas, super infeksi bakteri sering
terjadi.
2.3.5
Penatalaksanaan
Pengobatannya meliputi pengendalian
nyeri, perawatan luka, pemberian cairan intravena, dan pemberian antibiotik
yang sesuai. Pilar utama terapi jangka panjang adalah kortikosteroid sistemik,
yang telah menurunkan tingkat kematian dari 95% menjadi kurang dari 10%.
Penyakit yang ringan dapat diobati dengan uji coba kortikosteroid topikal atau
prednison dosis rendah.
Obat utama adalah
kortikosteroid karena bersifat imunosupresif. Yang sering digunakan adalah
prednison dan deksametason. Dosis prednison bervariasi tergantung pada berat
dan ringannya penyakit yakni 60-150 mg/hari. Adapula menggunakan 3 mg/kgBB/hari
bagi pemfigus yang berat. Pada dosis yang tinggi sebaiknya diberikan
dexametason via IM atau IV sesuai dengan equivalennya, karena lebih praktis.
Jika belum ada
perbaikan, yang berarti masih timbul lesi baru setelah 5 sampai 7 hari dengan
dosis inisial, maka dosis akan dinaikkan 50%. Kalau ada perbaikan dosis
diturunkan secara bertahap. Biasanya 5 sampai 7 hari diturunkan 10-20 mg
tergantung pada respon masing-masing. Cara pemberian kortikosteroid yang lain
dengan terapi denyut. Caranya bermacam-macam yang lazim digunakan ialah dengan methyl prenidosolon sodium succinate (solumedrol)
melalui IV selama 2-3 jam, diberikan jam 8 pagi untuk 5 hari. Dosis sehari
250-1000 mg (10-20 mg/kgBB).
Jika pemberian
prednison melebihi 40 ml/hari harus disertai dengan antibiotik untuk mencegah
infeksi sekunder.
2.4 SKABIES
2.4.1
Definisi
Skabies adalah penyakit kulit yang
disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes Scabiei Varian
hominis dan produknya pada tubuh. Penyakit kulit skabies merupakan penyakit
yang mudah menular. Penyakit ini dapat ditularkan secara langsung (kontak kulit
dengan kulit) misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan melalui hubungan
seksual. Penularan secara tidak langsung (melalui benda), misalnya pakaian,
handuk, sprei, bantal, dan selimut (Djuanda, 2007). Skabies adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh infestasi dan sensitasi Sarcoptes scabiei varian
hominis dan produknya. Penyakit ini disebut juga the itch, seven year itch,
Norwegian itch, gudikan, gatal agogo, budukan atau penyakit ampera (Harahap,
2008).
Skabies adalah penyakit kulit akibat
investasi dan sensitisasi oleh tungau Sarcoptes scabei. Scabies ini tidak
membahayakan manusia namun adanya rasa gatal pada malam hari ini merupakan
gejala utama yang mengganggu aktivitas dan produktivitas. Penyakit Skabies ini
banyak berjangkit di: (1) lingkungan yang padat penduduknya, (2) lingkungan
kumuh, (3) lingkungan dengan tingkat kebersihan kurang. Scabies cenderung
tinggi pada anak- anak usia sekolah, remaja bahkan orang dewasa (Siregar, 2004)
2.4.2
Etiologi
Skabies
(scabies, bahasa Latin = keropeng, kudis, gatal) disebabkan oleh tungau kecil
berkaki delapan (Sarcoptes scabie), dan didapatkan melalui kontak fisik ysng
erat dengan orang lain yang menderita penyakit ini, seringkali berpegangan
tangan dalam waktu yang sangat lama barangkali merupakan penyebab umum
terjadinya penyebaran penyakit ini. Semua kelompok umur bisa terkena, penyakit
ini umumnya menyerang anak-anak dan dewasa muda, walaupun akhir-akhir ini juga
sering didapatkan pada lansia, biasanya di lingkungan panti werda.
Kontak
sesaat tidak cukup untuk dapat menimbulkan penularan sehingga siapapun yang
biasa menghadapi kasus skabies dalam tugas pelayanan kesehatan tidak perlu
takut tertular penyakit ini.
Tungau
skabies betina membuat ruang di dalam epidermis dan meletakkan telur-telurnya.
Tungau skabies jantan hanya mempunyai satu tugas dalam kehidupanya, dan sesudah
kawin dengan tungau betina serta peleksanaan tugasnya selesai mereka mati.
Mulanya hospes (inang) tidak menyadari adanya aktivitas penggalian trowongan
dalam epidermis, tetapi setelah 4-5 minggu terjadi reaksi hipersensivitas
terhadap tungau atau bahan-bahan yang dikekeluarkannya dan mulailah timbul rasa
gatal. Adanya periode asimtomatis bermanfaat sekali bagi parasit ini, karena
dengan demikian mereka mempunyai waktu untuk membangun dirinya sebelum hospes
membuat respon imunitas. Setelahnya, hidup mereka menjadi penuh bahaya karena
terowongannya akan digaruk, dan tungau-tungau serta telur mereka akan hancur.
Dengan
cara ini hospes mengendalikan populasi tungau, dan pada kebanyakan penderita
skabies rata-rata jumlah tungau betina dewasa pada kulitnya tidak lebih dari
selusin.
2.4.3
Manifestasi Klinis
Pasien
mengeluh gatal, yang secara khas terasa sekali pada waktu malam hari. Hendaklah
dicurigai adanya skabies bila seseorang mengutarakan keluhan seperti itu.
Terdapat dua tipe utama lesi kulit pada skabies terowongan dari “ruam” skabies.
Terowongan utama ditemukan pada tangan dan kaki bagian samping jari tangan dan
jari kaki, sela-sela jari, pergelangan tangan, dan punggung kaki. Pada bayi,
terowongan sering terdapat pada telapak tangan, telapak kaki dan bisa juga
terdapat pada leher. Masing-masing terowongan panjangnya beberapa milimeter,
biasanya berliku-liku, dan ada vesikel pada salah satu ujung yang betdekatan
dengan tungau yang sedang menggali terowongan, dan seringkali dikelilingi
eritema ringan. Terowongan bisa juga ditemukan pada genetalia pria, biasanya
tertutupi oleh papula yang meradang dan papula tersebut yang ditemukan pada
penis dan skortum adalah patogenesis untuk skabies. Bila pada seorang pria
diduga terdapat skabies, hendaklah genitalianya selalu diperiksa.
“Ruam” skabies berupa erupsi papula kecil
yang meradang, yang terutama terdapat di sekitar aksila, umbilikus, dan paha.
Ruam ini merupakan suatu reaksi alergi tubuh terhadap tungau.
Selain
lesi primer tadi, bisa juga didapatkan kelainan sekunder seperti ekskoriasi,
eksematiasi, dan infeksi bakteri sekunder. Pada bebrapa tempat di dunia, adanya
infeksi sekunder oleh lesi skabies dengan streptokokus nefrogenik dikaitkan
dengan terjadinya glomerulonefritis sesudah terjadinya infeksi streptokokus
pada kulit.
2.4.4
Patofisiologi
Kutu
scabies dapat menyebabkan gejala transien pada manusia, tetapi mereka bukan
penyebab infestasi persisten. Cara penularan yang paling efisien adalah melalui
kontak langsung dan lama dengan seorang individu yang terinfeksi. Kutu scabies
dapat bertahan hingga tiga hari pada kulit manusia sehingga media seperti
tempat tidur atau pakaian merupakan sumber alternative untuk terjadinya suatau
penularan.
Siklus
hidup dari kutu berlangsung 0 hari dandihabiskan dalam epidermis manusia.
Setelah melakukan kopulasi, kutu jantan akan mati dan kutu betina akan membuat
liang ke dalam lapisan kulit dan meletakkan toatal 60-90 telur. Telur yang
menetas membutuhkan 10 hari untuk menjadi larva dan kutu dewasa. Kurang dari
10% dari telur yang dapat menghasilkan kutu dewasa.
Kutu
scabies kemudian bergerak melalui lapisan atas kulit dengan mengeluarkan
protase yang mendegradasi stratum korneum. Scybala (kotoran) yang tertinggal
saat mereka melakukan perjalanan melalui epidermis, menciptakan kondisi klinis
lesi yang diakui sebagai liang.
Populasi
pasien tertentu dapat rentan terhadap penyakit scabies, termasuk pasien dengan
gangguan immunodefisiensi primer dan penurunan respons imun sekunder terhadap
terapi obat, dan gizi buruk. Kondisi lainnya adalah gangguan motoric akibat
kerusakan saraf yang menyebabkan ketidakmampuan untuk menggaruk dalam
menanggapi pruritus sehingga menonaktifkan utilitas menggaruk untuk
menghilangkan kutu pada epidermis dan menghancurkan liang yang dibuat oleh kutu betina.
2.4.5
Penatalaksanaan
Semua
anggota keluarga dan orang-orang yang secara fisik berhubungan erat dengan
pasien, hendaknya secara simultan diobati juga. Obat-obat topikal harus
dioleskan mulai daerah leher sampai jari kaki, dan pasien diingatkan untuk
tidak membasuh tangannya sesudah melakukan pengobatan. Pada bayi, orang-orang
lanjut usia, dan orang-orang dengan imunokompromasi, terowongan tungau dapat
terjadi pada kepala dan leher, sehingga pemakaian obat perlu diperluas pada
daerah itu. Sesudah pengobatan, rasa gatal tidak dapat segera hilang, tetapi
pelan-pelan akan terjadi perbaikan dalam waktu 2-3 minggu, saat epidermis
superfisial yang mengandung tungau alergenik terkelupas. Obat antigatal topikal
seperti krim Eurax-Hydrocortisone (krotamion 10% dan hidrokortison 0,25%) dapat
digunakan pada tempat-tempat yang masih terasa gatal. Tidak diharuskan untuk
melakukan ‘disinfeksi’ pada pakaian, karpet, dan seprai tetapi pakaian dalam
dan baju tidur perlu dicuci.
1.
Obat-obat yang bisa dipakai :
a.
Malation 0,5%
Obat
dalam bentuk caiaran ini disukai karena tidak mengiritasio kulit yang mengalami
ekskoriasi atau eksema. Bilas sesudah 24 jam.
b.
Krim Permetrin 5%, Bilas sesuda 8-12
jam.
Pemakaian
tunggal malation atau permetrin sering efektif, tetapi dianjurkan untuk
melakukan pengobatan yang kedua 7 hari sesudahnya.
c.
Emulsi benzil bezoat
Pengobatan
dilakukan tiga kali dalam waktu 24 jam. Pada waktu sore hari pertama oleskan
emulsi mulai dari leher sampai jari kaki. Biarkan mengering, lakukan pengolesan
lapis yang kedua. Pagi berikutnya oleskan lapis yang ketiga, dan kemudian bilas
benzil benzoat pada sore hari kedua. Pengobatan dengan cara ini sudah cukup,
sehingga pasien harus diberi penerangan bahwa pemakaian berulang akan
menimbulkan dermatitis karena terjadi iritasi.
Benzil
benzoat merupakan skabisida yang sangat efektif, tetapi merupakan iritan, dan
di inggris obat ini sudah digantikan dengan yang lebih modern. Tetapi karena
tidak mahal, maka obat ini tetap digunakan di muka bumi.
2.
Pengobatan pada bayi
Penggunaan
melation tidak dianjurkan untuk bayi berusia dari 6 bulan. Sedangkan permetrin
tidak dianjurkan untuk bayi berusia dari 2 bulan. Karena sudah tersedia
obat-obat yang tidak bersifat iritan, penggunaan benzil benzoat tidak
direkomendasikan pada bayi, tetapi bila tetap hendak digunakan maka harus
diencerkan mengurangi sifat iritasinya.
3.
Pengobatan pada wanita hamil
Telah
disepakati tentang adanya efek toksik yang potensial dari skabisida pada janin
bila digunakan pada wanita hamil. Akan tetapi tidak didapatkan adanya bukti
yang nyata bahwa skabisida topikal yang digunakan akhir-akhir ini bisa
menimbulkan efek yang berbahaya pada wanita hamil bila penggunaannya sesuai
aturan. Karena itu, dengan tidak pernah ditemukannya keracunan pada bayi, maka
penggunaan malation atau permetrin dianggap aman.
2.4.6
Pencegahan
1.
Mandi secara teratur dengan menggunakan
sabun.
2.
Mencuci pakaian, sprei, sarung bantal,
selimut dan lainnya secara teratur minimal 2 kali dalam seminggu.
3.
Menjemur kasur dan bantal minimal 2
minggu sekali.
4.
Tidak saling bertukar pakaian dan handuk
dengan orang lain.
5.
Hindari kontak dengan orang-orang atau
kain serta pakaian yang dicurigai terinfeksi tungau skabies.
6.
Menjaga kebersihan rumah dan
berventilasi cukup.
2.5
TINEA
2.5.1
Definisi
Tinea
corporis adalah infeksi dermatofita superfita superfisial yang ditandai oleh
baik lesi inflamasi maupun noninflamasi pada glabrous skin (kulit tubuh yang
tidak berambut) seperti bagian muka, leher, badan, lengan, tungkai, dan
gluteal. Sinonim untuk penyakit ini adalah tinea sirsinata, tinea glabrosa,
scherende fiechte, kurap, herpes sircine trichophytiue, (Mansjoer Arif, 2000).
Tinea corporis adalah infeksi umum yang sering terlihat
pada daerah dengan iklim yang panas dan lembab. Seperti infeksi jamur yang
lain, kondisi yang hangat dan lembab membantu penyebaran
infeksi ini. Oleh karena itu, daerah tropis dan subtropis memiliki
insien yang tinggi terhadap tinea
corporis. Tinea corporis dapat terjadi pada semua usia. Bisa
didapatkan pada orang yang bekerja yang berhubungan dengan hewan-hewan.
Maserasi dan oklusi kulit
lipat paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan memudahkan
infeksi
Penularan
juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda
yang mengandung jamur, misalnya handuk,lantai kamar mandi, tempat tidur
hotel dan lain-lain. Pada tinea cruris, onsetnya biasanya pada orang
dewasa, laki-laki lebih sering terjangkiti daripada wanita. Faktor
predisposisinya antara
lain lingkungan yang hangat dan lembab, pakaian yang ketat, kegemukan
dan penggunaan obat
glukokortikoid.
2.5.2
Etiologi
Menurut
Mansjoer Arief (2000), etiologi dari tinea korporis antara lain:
Trichophyton
rubrum
Trichophyton
mentagrophytes
Trichophyton
tonsurans
Trichophyton
interdigitale
Trichophyton
verrucosum
Microsporum
canis
Microsporum
gypseum
Penyebab
tersering tinea korposis adalah Trichophyton rubrum dan Trichophyton
mentagrophytes. Dermatofita adalah golongan jamur yang menyebabkan
dermatofitosis golongan jamur ini mempunyai sifat mencernakan keratin.
Dermatofita termasuk kelas fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3 genus, yaitu
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Walaupun semua dermatofita bisa
menyebabkan tinea corporis, penyebab yang paling umum adalah T. rubrum , T.
mentagrophytes, T. canis dan T tonsurans.
Dermatofitosis
adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur dermatofita yaitu
Epidermophyton, Mycrosporum dan Trycophyton. Terdapat lebih dari 40 spesies
dermatofita yang berbeda, yang menginfeksi kulit dan salah satu penyakit yang
disebabkan jamur golongan dermatofita adalah tinea korporis (Verma dan
Heffernan,2008)
2.5.3
Manifestasi
Klinis
Predileksi
tinea ini adalah di daerah leher, ekstremitas dan badan, lesi dapat berupa lesi
anular bulat atau bulat lanjong, berbatas tegas karena terjadi
konfluensi beberapa lesi, pinggir lesi polisiklik dan agak meninggi. Tinea
imbrikata (tokleau) mulai dengan papul
berwarna coklat, perlahan tahan
membesar. Tineafavosa atau favus
biasanya dimulai di kepala sebagai titik kecil
dibawah kulit yang berwarna merah kuning dan berkembang menjadi krusta
berbentuk cawan (skutula) dengan berbagai ukuran. Bentuk lebih
berat dapat berupa granuloma (granuloma majochi) dapat terjadi pada gangguan fungsi imun
selular lokal atau sistemik granuloma dapat kecil hanya disekitar folikel
rambut tetapi dapat meluat dan membentuk vegetasi, dapat
terjadi pada wanita yang biasa mencukur rambut
kaki.
2.5.4
Patofisiologi
Infeksi dermatofita
melibatkan tiga langkah utama: perlekatan ke keratinosit, penetrasi melalui dan
diantara sel, dan perkembangan respon host.
Perlekatan. Jamur
superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk bisa melekat pada jaringan
keratin diantaranya sinar UV, suhu, kelembaban, kompetisi dengan flora normal
dan sphingosin yang diproduksi oleh keratinosit. Asam lemak yang diproduksi
oleh glandula sebasea juga bersifat fungistatik.
Penetrasi. Setelah
terjadi perlekatan, spora harus berkembang dan menembus stratum korneum pada
kecepatan yang lebih cepat daripada proses desquamasi. Penetrasi juga dibantu
oleh sekresi proteinase, lipase dan enzim mucinolitik, yang juga menyediakan
nutrisi untuk jamur. Trauma dan maserasi juga membantu penetrasi jamur
kejaringan. Fungal mannan didalam dinding sel dermatofita juga bisa menurunkan
kecepatan proliferasi keratinosit. Pertahanan baru muncul ketika begitu jamur
mencapai lapisan terdalam dari epidermis.
Perkembangan respons
host. Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status imun pasien dan organisme yang
terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV, atau Delayed Type Hipersensitivity
(DHT) memainkan peran yang sangat penting dalam melawan dermatofita. Pada
pasien yang belum pernah terinfeksi dermatofita sebelumnya, infeksi primer
menyebabkan inflamasi minimal dan trichopitin tes hasilnya negative.infeksi
menghasilkan sedikit eritema dan skuama yang dihasilkan oleh peningkatan
pergantian keratinosit. Dihipotesakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh
sel langerhans epidermis dan dipresentasikan dalam limfosit T di nodus limfe.
Limfosit T melakukan proliferasi dan bermigrasi ketempat yang terinfeksi untuk
menyerang jamur. Pada saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi, dan barier
epidermal menjadi permeable terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi.
Segera jamur hilang dan lesi secara spontan menjadi sembuh.
2.5.5
Penatalaksanaan
Menghilangkan
faktor predisposisi penting, misalnya mengusahakan daerah lesi selalu kering
dengan memakai baju yang menyerap keringat. Preparat antijamur topikal adalah terapi
pilihan untuk lesi yang terbatas dan dapat dijangkau. Berbagai macam preparat
imidazol dan alilamin tersedia dalam beberapa formulasi. Semuanya memberikan
keberhasilan terapi yang tinggi (70-100%) dan jarang ditemukan efek samping.
Obat ini digunakan pagi dan sore hari selama sekurang-kurangnya 2-4 minggu.
Terapi dioleskan sampai 3 cm di luar batas lesi dan diteruskan
sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. Indikasi terapi oral adalah
jika lesi luas atau gagal dengan pengobatan topikal. Obat oral yang dapat
digunakan adalah:
Griseofulvin 500-1000 mg/hari
selama 2-6 minggu, meskipun beberapa laporan menunjukkan kemungkinan kasus
resisten.
Ketokonazol 200 mg/hari selama
kurang lebih 4 minggu.
Itrakonazol 100 mg/hari selama 2
minggu atau 200 mg/hari selama 1 minggu.
Terbinafin 250 mg/hari selama 1-2
minggu.
Mengobati atau menghilangkan sumber
penularan merupakan hal penting untuk mencegah reinfeksi dan penyebaran lebih
lanjut kepada manusia.
1. Bila masih basah / infeksi
sekunder.
kompres
dengan sol sodium chloride 0,9 % 3-5 hari
Kaps.
Eritromisin 4dd 250 – 500 mg.
Anak-anak
: 3-4 dd 12,5-37,5 mg/kgBB / dosis diberikan 5-7 hari.
2.
Obat topical
Bila
lesi tidak luas
krim
mikonazole nitrat 2% pagi-sore.
Salep
whitfield berisi asidum salisilium 3% dan asidum benzoikum 6%, pagi – sore,
jangan untuk daerah muka.
Salep
2-4 asidum salisilicum 2% - sulfur presipitatum 4% pagi – sore.
3.
Obat oral
Tablet
Griseofulvin (tabl:125mg,250mg,500mg)
dosis
anak 10 mg/kg BB/hr.
dosis
dewasa 500-1000 mg/hr
diberikan
1x sesudah makan siang / 2x sehari sesudah makan
Indikasi
pada tinea corporis yang luas, sering kambuh / dengan obat topical tidak sembuh
– sembuh.
Dermatofitosis
yang dengan griseofulvin tidak sembuh / intoleransi. Lama pengobatan topikal
atau / dan oral minimal 3 minggu atau sampai dengan 1-2 mg sesudah KOH negatif,
untuk mencegah kekambuhan.
4.Obat
tambahan
Tab.
CTM 2-4 dd ½-1 tab.Diberikan bila rasa gatal mengganggu.
Anak
: 4 dd 0,09 mg / kg BB / dosis.
2.6
KANKER KULIT
2.6.1 Definisi
Kanker
kulit adalah sel yamg telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya,
sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak teratur. Kanker bisa terjadi dari
berbagai jaringan dalam berbagai organ. Sejalan dengan pertumbuhan dan
perkembangbiakannya, sel-sel kanker membentuk suatu massa dari jaringan ganas
yang menyusup ke jaringan didekatnya dan bisa menyebar (metastasis) ke seluruh
tubuh. (Ajoemadi soemardi, 2006)
Kanker kulit adalah penyakit dimana
kulit kehilangan kemampuannya untuk generasi dan tumbuh secara normal. Sel-sel
kulit yang sehat secara normal dapat membelah diri secara teratur untuk
menggantikan sel kulit mati dan tumbuh kembali (tiro, 2010).
Kanker kulit adalah jenis kanker
yang terletak dipermukaan kulit, sehingga mudah dikenali. Namun gejala awal yang
timbul dirasakan tidak begitu mengganggu, sehingg penderita terlambat melakukan
pengobatan (mangan, 2005).
Kanker kulit dapat menyerang siapa
saja, baik pria maupun wanita. Daerah yamg sering terjadi serangannya biasanya
permukaan permukaan yang ering terkena paparan sinar matahari, seperti wajah,
tangan dan tungkai bawah (mangan, 2005)
2.6.2
Etiologi
Menurut Mutaqqin (2012) penyebab pasti belum diketahui,
tetapi ada beberapa faktor yang menjadi predisposisi terjadinya basalioma.
1.
Spektrum
sinar matahari yang bersifat karsinogenik adalah sinar yang memiliki panjang
gelombang berkisar antara 280 sampai 320 nm. Spektrum ini terutama bertanggung
jawab dalam membakar dan membuat kulit menjadi cokelat. Pemakaian bahan-bahan
yang melindungi kulit dari sinar matahari sangat dianjurkan pada setiap orang
yang dalam keluarganya ada yang menderita kanker kulit, dan pada orang-orang
yang berkulit peka sehingga mudah sekali menderita luka bakar karena sinar
matahari.
2.
Orang
yang tidak memproduksi (pigmen) melanin dengan jumlah yang cukup di dalam kulit
untuk melindungi jaringan di bawahnya sangat rentan terhadap kerusakan akibat
sinar matahari. Orang yang paling beresiko itu adalah orang yang berkulit
cerah, bermata biru, berambut merah yang nenek moyangnya berdarah Celtic, atau
orang dengan warna kulit yang merah muda atau cerah di samping orang yang sudah
lama terkena sinar matahari tanpa terjadi perubahan warna kulit menjadi cokelat
kekuningan.
3.
Para
pekerja yang mengalami kontak dengan zat-zat kimia tertentu (senyawa arsen,
nitrat, batubara, ter. Dan aspal, serta paraffin).
4.
Xenoderma
pigmentosum : penyakit ini merupakan penyakit resesif autosomal yang menjadi
predisposisi untuk penuaan dini pada kulit, dimulai dengan perubahan pigmen dan
berubah menjadi karsinoma sel basal, karsinoma sel skuamosa, dan melanoma
maligna. Efek dari Xenoderma pigmentosum adalah karena ketidakmampuan untuk
memperbaiki kerusakan DNA akibat sinar ultraviolet dari matahari.
5.
Orang
yang menderita sikatriks akibat luka bakar yang berat dapat mengalami kanker
kulit setelah 20 hingga 40 tahun kemudian.
2.6.3
Patofisiologi
Karsinoma sel basal dari epidermis dan adneksa struktur
(folikel rambut, kelenjar ekstrin). Terjadinya didahului dengan regenerasi dari
kolagen yang sering dijumpai pada orang yang sedikit pigmennya dan sering
mendapat paparan sinar matahari, sehingga nutrisi pada epidermis terganggu dan
merupakan prediksi terjadinya suatu kelainan kulit. Melanin berfungsi sebagai
energi yang dapat menyerap energi yang berbeda jenisnya dan menghilang dalam bentuk
panas. Jika energi masih terlalu besar dapat merusak sel dan mematikan atau
mengalami mutasi untuk selanjutnya menjadi sel kanker.
Peningkatan radiasi ultraviolet dapat menginduksi
terjadinya keganasan kulit pada manusia melalui efek imunologi dan efek
karsinogenik. Transformasi sel menjadi ganas akibat radiasi ultraviolet
diperkirakan berhubungan dengan terjadinya perubahan pada DNA yaitu
terbentuknya mutasi DNA yang berperan pada pembentukan tumor. Reaksi sinar
ultraviolet menyebabkan efek terhadap proses karsinogenik pada kulit yaitu
proliferasi melanosit menjadi berkurangnya apoptosis yang menyebabkan
terus-menerus melanosit rusak serta proliferasi pada autoimunnya. Terjadilah
metastase pada epidermis semakin menjalar perlahan ke bagian dermis (subkulit).
Timbul pigmentasi dan plak-plak
kehitaman, jika lesi semakin lama menebal, dan menyebar terus-menerus harus
segera dilakukan pembedahan untuk mencegah terjadinya resiko berkelanjutan
(Putra, 2008).
2.6.4
Manifestasi Klinis
Sebagian besar berawal sebagai sebuah nodul yang menyebar
keluar dengan lambat, biasanya terjadi penekanan pada bagian tengah
(menimbulkan gambaran yang klasik, yaitu bagian tepi yang tergulung), biasanya
warna kulit tampak transparan (sering dilukiskan seperti ‘keperakan’), telangi-ekstasis
pembuluh-pembuluh darah pada permukaan tumor sangat khas, dan merupakan
penyebab keluhan yang sering muncul tentang mudahnya terjadi perdarahan akibat
benturan, metastasis sangat jarang, tetapi invasi lokal dapat sering
destruktif, dan KSB dapat menyebar melalui jalur tulang sampai ke tulang
tengkorak (Brown & Burns, 2005).
Yang
harus di waspadai apabila suatu tahi lalat curiga menjadi ganas adalah bila
pada tahi lalat tersebut di temukan tanda”ABCD”, yaitu:
·
A=Asimetrik, bentuknya tak beraturan.
·
B=Border atau pinggirannya juga tiak
rata.
·
C=Color atau warnanya bervariasi dari
suatu area ke area lainnya. Bisa kecoklatan sampai hitam. Bahkan dalam kasus
tertentu ditemukan berwarna putih, merah dan biru.
·
D=Diameternya lebih besar dari 6mm
Bagian
tubuh yang terserang Kanker Sel Basal biasanya di wajah dan leher. Meskipun
jarang dapat pula di jumpai pada lengan, tangan, badan, kaki dan kulit kepala
(Marwali, 2002).
Penyakit
ini dimulai dengan papula kecil, warna kuning abu-abu mengkilat, meninggi di
atas permukaan kulit, jika kena trauma mudah berdarah. Papula makin lamamakin
membesar menjadi makula dan bagian tengah dapat timbul siklus atau tida ada
ulkus (Siregar, 2005).
2.6.5
Penatalaksanaan
Karsinoma sel basal harus segera ditangani. Penanganan
termasuk kuret dengan alat diseksi listrik, skapel, radiasi, bedah dengan badan
kimia, dan bedah beku. Kanker sel basal dengan diameter kurang dari 2 cm
biasanya ditangani dengan skapel atau alat diseksi listrik dan kuret setelah
dilakukan biopsi untuk memastikan diagnosis. Angka kesembuhannya adalah 95%.
Terapi sinar rontgen boleh diberikan pada penderita yang telah berusia 60
sampai 70-an tahun dengan tumor yang sangat besar di sekitar kelopak mata, daun
telinga, atau bibir.
Pembedahan dengan bahan kimia baik untuk mengobati kanker
besar yang berinfiltrasi serta sering kambuh, terutama disekitar telinga, lipat
nasolabial, dan mata. Pada bedah kimia, eksisi mikroskopik pada tumor dilakukan
dengan memisahkan tumor selapis demi selapis dengan skalpel, kemudian dibuat
preparat irisan beku yang selanjutnya diperiksa untuk menemukan bukti adanya
kanker sel basal. Teknik ini adalah yang paling efektif dan mahal, tetapi angka
kesembuhannya melebihi 97% (Arif Muttaqin, 2012).
Pengobatan secara medikomentosa dengan
kemoterapi (obat-obat anti kanker) yang dikelompokkan menjadi beberapa kategori
yaitu: alkylating agents, antimetabolit, alkaloid tanaman, antibiotik
antitumor, enzim, hormon dan pengubah respon biologis, Dan pengobatan
nonmedikomentosa meliputi radioterapi, pembedahan dan terapi fisik (Brunner and Suddarth, 2002).
2.6.6
Pencegahan
Menurut Smeltzer (2002), untuk mencegah kekambuhan,
hindari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit basalioma, antara lain :
1.
Jangan
mencoba berjemur untuk membuat kulit menjadi cokelat kekuningan.
2.
Hindari
pajanan sinar matahari dengan menggunakan topi, kemeja lengan panjang, celana
panjang atau rok panjang.
3.
Gunakan
tabir surya berkualitas tinggi, minimal dengan SPF (Solar Protection Factor)
15, yang menghambat sinar UV (Ultra Violet) A dan UV (Ultra Violet) B.
4.
Oleskan
tabir surya minimal setengah jam sebelum bepergian dan oleskan sesering
mungkin.
5.
Periksalah
kulit secara teratur untuk mengetahui adanya berbagai perubahan yang mengarah
kepada keganasan (pertumbuhan baru di kulit yang membentuk tukak, mudah
berdarah, sukar sembuh, berubah warna, ukuran, struktur, terasa nyeri, meradang
atau gatal).
2.7
STEVEN JOHNSON
2.7.1Definisi
Sindrom
Stevens-Johnson, biasanya disingkatkan sebagai SSJ, adalah reaksi buruk yang sangat gawat terhadap obat.
Efek samping obat ini mempengaruhi kulit, terutama selaput mukosa. Juga ada
versi efek samping ini yang lebih buruk, yang disebut sebagai nekrolisis
epidermis toksik (toxik epidermal necrolysis/TEN). Ada juga versi yang lebih
ringan, disebut sebagai eritema multiforme (EM). (Adithan, 2006).
Sindrom
Steven Johnson dalah sindroma yang mengenai kulit, selaput lendir di orifisium
dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat, kelainan pada
kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura
(Muttaqin arif, 2012).
2.7.2
Etiologi
Penyebab Steven Johnson ini paling banyak dipicu oleh
penggunaan obat-obatan atau dengan kata lain, penyebab Steven Johnson ini
adalah karena alergi obat-obat tertentu, biasanya adalah penggunaan obat
antibiotik. Selain alergi obat penyebab lainnya adalah karena adanya
infeksi virus, bakteri, atau jamur tertentu, karena makanan seperti coklat,
ketidak cocokan lingkungan misal udara dingin, panas matahari dan bahkan bisa
juga dipicu oleh penyakit keganasan lainnya misal kanker. Sejujurnya, penyebab
pasti dari Steven Johnson ini idiopatik atau tidak selalu diketahui secara
pasti, tapi yang paling banyak terjadi adalah karena reaksi berlebihan dari
tubuh untuk menolak obat-obatan yang masuk ke dalam
tubuh.
Alergi obat tersering adalah golongan obat analgetik (pereda
nyeri), antipiretik (penurun demam) sekitar 45%, golongan karbamazepin sekitar
20% dan sisanya adalah jenis jamu-jamuan (Muttaqin arif, 2012).
Beberapa faktor yang dapat dianggap sebagai penyebab adalah:
a.
Alergi
obat secara sistemik (misalnya penisilin, analgetik, arti piuretik).
1)
Penisilline
dan semisentetiknya.
2)
Sthreptomicine
3)
Sulfonamida
4)
Tetrasiklin
5) Anti piretik atau analgesik
(derifat, salisil/pirazolon, metamizol, metampiron dan paracetamol)
6)
Kloepromazin
7)
Karbamazepin
8)
Kirin
Antipirin
9)
Tegretol
b.
Infeksi
mikroorganisme (bakteri, virus, jamur dan parasit).
c.
Neoplasma
dan faktor endokrin.
d.
Faktor
fisik (udara dingin, sinar matahari, radiasi, sinar-X).
e.
Makanan.
2.7.3
Manifestasi
Klinis
SSJ dan TEN biasanya
mulai dengan demam, sakit kepala, batuk, dan pegal, yang dapat berlanjut dari
1-14 hari. Kemudian pasien mengalami ruam datar berwarna merah pada muka dan
batang tubuh, sering kali kemudian meluas ke seluruh tubuh dengan pola yang
tidak rata. Daerah ruam membesar dan meluas, sering membentuk lepuh pada tengahnya. Kulit lepuh sangat longgar, dan
mudah dilepas bila digosok.
Pada TEN, bagian kulit
yang luas mengelupas, sering hanya dengan sentuhan halus. Pada banyak orang, 30
persen atau lebih permukaan tubuh hilang.Daerah kulit yang terpengaruh sangat
nyeri dan pasien merasa sangat sakit dengan panas-dingin dan demam.Pada beberapa orang, kuku dan rambut
rontok.
Pada SSJ dan TEN,
pasien mendapat lepuh pada selaput mukosa yang melapisi mulut, tenggorokan,
dubur, kelamin, dan mata. Kehilangan kulit dalam TEN serupa dengan luka bakar
yang gawat dan sama-sama berbahaya.Cairan dan elektrolit dalam jumlah yang
sangat besar dapat merembes dari daerah kulit yang rusak. Daerah tersebut
sangat rentan terhadap infeksi, yang menjadi penyebab kematian utama akibat
TEN. Mengenal gejala awal SSJ dan segera periksa ke dokter adalah cara terbaik
untuk mengurangi efek jangka panjang yang dapat sangat mempengaruhi orang yang
mengalaminya.
Gejala awal termasuk :
a. Ruam.
b. Lepuh
dalam mulut, mata, kuping, hidung atau alat kelamin
c. Bengkak
pada kelopak mata, atau mata merah.
d. Konjungitivitis
(radang selaput yang melapisi permukaan dalam kelopak mata dan bola mata).
e. Demam
terus-menerus atau gejala seperti flu
Sindrom ini jarang dijumpai pada
usia kurang dari 3 tahun. Keadaan umumnya bervariasi dari ringan sampai berat.
Pada yang berat kesadarannya menurun, penderita dapat soporous sampai koma.
Mulainya dari penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa demam
tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan.
Pada sindrom ini terlihat adanya
trias kelainan berupa :
Kelainan
kulit, Kelainan selaput lendir di orifisium dan Kelainan mata.
1.
Kelainan Kulit
Kelainan kulit
terdiri atas eritema, papul, vesikel, dan bula. Vesikel dan bula kemudian
memecah sehingga terjadi erosi yang luas. Disamping itu dapat juga disertai
purpura.
2.
Kelainan Selaput lender di orifisium
Kelainan di
selaput lendir yang sering ialah pada mukosa mulut (100%), kemudian disusul
oleh kelainan di lubang alat genital (50%), sedangkan dilubang hidung dan anus
jarang ditemukan (masing-masing 8% dan 4%).
Kelainan
berupa vesikal dan bula yang cepat memecah hingga menjadi erosi dan ekskoriasi
serta krusta kehitaman. Di mukosa mulut juga dapat terbentuk pescudo membran.
Di bibir yang sering tampak adalah krusta berwarna hitam yang tebal. Kelainan
di mukosa dapat juga terdapat di faring, traktus respiratorius bagian atas dan
esophagus. Stomatitis ini dapat menyeababkan penderita sukar/tidak dapat
menelan. Adanya pseudo membran di faring dapat menimbulkan keluhan sukar
bernafas.
3.
Kelainan Mata
Kelainan mata,
merupakan 80 % diantara semua kasus yang
tersering ialah konjungtivitis kataralis, selain itu juga dapat berupa
konjungtivitis purulen, perdarahan, simblefarop, ulkus kornea, iritis dan
iridosiklitis.
Disamping trias kelainan tersebut dapat pula
terdapat kelainan lain, misalnya : nefritis dan onikolosis (Muttaqin arif, 2012).
2.7.4
Patofisiologi
Patogenesisnya
belum jelas, disangka disebabkan oleh reaksi hipersensitif tipe III dan IV.
Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya komplek antigen antibodi yang
membentuk mikro-presitipasi sehingga terjadi aktifitas sistem komplemen.
Akibatnya terjadi akumulasi neutrofil yang kemudian melepaskan lisozim dan
menyebabkan kerusakan jaringan pada organ sasaran (target organ). Reaksi
hipersentifitas tipe IV terjadi akibat limfosit T yang tersintesisasi berkontak
kembali dengan antigen yang sama kemudian limfokin dilepaskan sehingga terjadi
reaksi radang (Djuanda, 2000)
a.
Reaksi Hipersensitif tipe III
Reaksi
tipe III terjadi akibat terbentuknya komplek antigen antibodi yang membentuk
mikro-presitipasi sehingga terjadi aktifitas sistem komplemen. Akibatnya terjadi
akumulasi neutrofil yang kemudian melepaskan lisozim dan menyebabkan kerusakan
jaringan pada organ sasaran (target organ).
Hal ini
terjadi sewaktu komplek antigen antibodi yang bersirkulasi dalam darah
mengendap di dalam pembuluh darah atau jaringan sebelah hilir. Antibodi tidak
ditujukan kepada jaringan tersebut, tetapi terperangkap dalam jaringan
kapilernya. Pada beberapa kasus antigen asing dapat melekat ke jaringan
menyebabkan terbentuknya kompleks antigen antibodi ditempat tersebut. Reaksi
tipe III mengaktifkan komplemen dan degranulasi sel mast sehingga terjadi
kerusakan jaringan atau kapiler ditempat terjadinya rekasi tersebut. Neutrofil
tertarik ke daerah tersebut dan mulai memfagositosis sel-sel yang rusak
sehingga terjadi pelepasan enzim-enzim sel serta penimbunan sisa sel. Hal ini
menyebabkan siklus peradangan berlanjut (Corwin, 2000).
a.
Reaksi Hipersensitif Tipe IV
Reaksi hipersentifitas tipe IV terjadi akibat limfosit T
yang tersintesisasi berkontak kembali dengan antigen yang sama kemudian limfokin
dilepaskan sehingga terjadi reaksi radang. Pada reaksi ini diperantarai oleh
sel T, terjadi pengaktifan sel T penghasil Limfokin atau sitotoksik oleh suatu
antigen sehingga terjadi penghancuran sel-sel yang bersangkutan. Reaksi yang
diperantarai oleh sel ini bersifat lambat (delayed) memerlukan waktu 14 jam
sampai 27 jam untuk terbentuknya (Corwin, 2000).
2.7.5 Penalaksanaan
a.
Perawatan
prehospital: paramedis harus mengetahui adanya tanda-tanda kehilangan cairan
berat dan mesti diterapi sebagai pasien SSJ sama dengan pasien luka bakar.
b.
Perawatan
gawat darurat harus diberikan penggantian cairan dan koreksi elektrolit.
c.
Luka
kulit diobati sebagai luka bakar.
d.
Pasien
SSJ semestinya diberikan perhatian khusus mengenai jalan nafas dan stabilitas
hemodinamik, status cairan, perawatn luka dan kontrol nyeri.
e.
Penatalaksanaan
SSJ bersifat simtomatik dan suportif.Mengobati lesi pada mulut dangan
mouthwashes, anestesi topikal berguna untuk mengurangi rasa nyeri.daerah yang
mengalami pengelupasan harus dilindungi dengan kompres salin atau burrow
solution
f.
Penyakit
yang mendasari dan infeksi sekunder perlu diidentifikasi dan diterapi. Obat
penyebab harus dihentikan.
g.
Penggunaan
obat-obat steroid sistemik masih kontroversial.
Seluruh pengobatan harus dihentikan, khususnya yang
diketahui menyebabkan reaksi SJS. Penatalaksanaan awalnya sama dengan
penanganan pasien dengan luka bakar, dan perawatan lanjutan dapat berupa
suportif (misalkan cairan intravena) dan simptomatik (misalkan analgesik, dll),
tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit ini.
Kompres saline atau Burow solution untuk menutupi luka kulit
yang terkelupas/terbuka.Alternatif lainnya untuk kulit adalah penggunaan
calamine lotion.Pengobatan dengan kortikosteroid masih kontroversial semenjak
hal itu dapat menyebabkan perburukan kondisi dan peningkatan resiko untuk
terkena infeksi sekunder. Zat lainnya yang digunakan, antara lain siklofosfamid
dan siklosporin, namun tidak ada yang berhasil.
Pemberian immunoglobulin intravena menunjukkan suatu hal
yang menjanjikan dalam mengurangi durasi reaksi alergi dan memperbaiki gejala.
Pengobatan suportif lain diantaranya penggunaan anestesi nyeri topikal dan
antiseptik, yang dapat menjaga lingkungan tetap hangat, dan penggunaan
analgesic intravena. Seorang oftalmologis atau optometris harus dikonsultasikan
secepatnya.
Oleh karena SJS sering menyebabkan pembentukan jaringan
parut di dalam bola mata yang kemudian menyebabkan vaskularisasi kornea dan
terganggunya penglihatan, dan gangguan mata lainnya. Diperlukan pula adanya program
fisioterapi setelah pasien diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
1.
Kortikosteroid
Bila keadaan umum baik dan lesi
tidak menyeluruh cukup diobati dengan prednisone 30-40 mg sehari. Namun bila
keadaan umumnya buruk dan lesi menyeluruh harus diobati secara tepat dan cepat.
Kortikosteroid merupakan tindakan file-saving dan digunakan deksametason
intravena dengan dosis permulaan 4-6 x 5 mg sehari. Umumnya masa kritis diatasi
dalam beberapa hari. Pasien steven-Johnson berat harus segera dirawat dan diberikan
deksametason 6×5 mg intravena. Setelah masa krisis teratasi, keadaan umum
membaik, tidak timbul lesi baru, lesi lama mengalami involusi, dosis diturunkan
secara cepat, setiap hari diturunkan 5 mg. Setelah dosis mencapai 5 mg sehari,
deksametason intravena diganti dengan tablet kortikosteroid, misalnya
prednisone yang diberikan keesokan harinya dengan dosis 20 mg sehari, sehari
kemudian diturunkan lagi menjadi 10 mg kemudian obat tersebut dihentikan. Lama
pengobatan kira-kira 10 hari.
Seminggu setelah pemberian
kortikosteroid dilakukan pemeriksaan elektrolit (K, Na dan Cl). Bila ada
gangguan harus diatasi, misalnya bila terjadi hipokalemia diberikan KCL 3 x 500
mg/hari dan diet rendah garam bila terjadi hipermatremia.Untuk mengatasi efek
katabolik dari kortikosteroid diberikan diet tinggi protein/anabolik seperti
nandrolok dekanoat dan nanadrolon. Fenilpropionat dosis 25-50 mg untuk dewasa
(dosis untuk anak tergantung berat badan).
2.
Antibiotik
Untuk
mencegah terjadinya infeksi misalnya bronkopneumonia yang dapat menyebabkan
kematian, dapat diberi antibiotik yang jarang menyebabkan alergi, berspektrum
luas dan bersifat bakteriosidal misalnya gentamisin dengan dosis 2 x 80 mg.
3.
Infus dan tranfusi darah
Pengaturan keseimbangan
cairan/elektrolit dan nutrisi penting karena pasien sukar atau tidak dapat
menelan akibat lesi dimulut dan tenggorokan serta kesadaran dapat menurun.Untuk
itu dapat diberikan infus misalnya glukosa 5 % dan larutan Darrow. Bila terapi
tidak memberi perbaikan dalam 2-3 hari, maka dapat diberikan transfusi darah
sebanyak 300 cc selama 2 hari berturut-turut, terutama pada kasus yang disertai
purpura yang luas. Pada kasus dengan purpura yang luas dapat pula ditambahkan
vitamin C 500 mg atau 1000 mg intravena sehari dan hemostatik.
4. Topikal
Terapi topical untuk lesi di mulut dapat berupa kenalog in
orabase. Untuk lesi di kulit yang erosif dapat diberikan sufratulle atau krim
sulfadiazine perak.
DAFTAR
PUSTAKA
Djuanda S, Sularsito. (2005). SA. Dermatitis In: Djuanda A, ed Ilmu
penyakit kulit dan kelamin. Edisi III. Jakarta: FK UI: 126-31.
Masjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: media
Aesculapius
Lynda Juall Carpenito dan Moyet. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.
Jakarta: EGC
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi: konsep
klinis proses-proses penyakit. Jakarta: EGC
Graham-Brown, Robin dan Burns, Tony.
2005. Lecture Notes: Dermatologi Edisi 8. Jakarta : EMS
Muttaqin, Arif dan Sari, Kumala. 2012.
Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta : Salemba medika
Smeltzer, Suzanne dan Bare, Brenda.
2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8.
Jakarta : EGC
Taylor M, Cynthia, dan Ralph, Sheila
Sparks. 2010. Diagnosis Keperawatan dengan Rencana Asuhan Ed.10. Jakarta : EGC
